Pembebasan Palestina; Apakah Chavez Bisa Diharapkan?

By Fidei on 02.31

Filed Under:

Sejak Chavez mengusir dubes Israel, Chavez menuai pujian dari  komunitas Muslim dan Arab.
Seperti dikutip Eramuslim;

"Dia (Chavez) adalah simbol perjuangan untuk kemerdekaan seperti Che Guevara. Itulah yang membedakannya dari pemimpin dunia lainnya," puji anggota parlemen Palestina Mohammad al-Lahham.


..."Semua orang di sini (Palestina) kenal siapa dia (Chavez)," kata walikota Al-Masar di Betlehem, Tepi Barat, Mahmud Zwahreh.

Menurutnya, banyak warga Palestina yang minta foto Chavez untuk dibawa dalam aksi-aksi unjuk rasa menentang agresi Israel di Jalur Gaza. Oleh sebab itu, Zwahreh memcetak banyak foto Chavez untuk dibagi-bagikan pada para pengunjuk rasa anti-Israel. Tak heran jika dalam aksi unjuk rasa anti-Israel, juga terlihat bendera-bendera Venezuela dan foto-foto Chavez.

"Saya ingin bisa memberikan Chavez paspor Palestina agar ia bisa menjadi warga negara Palestina. Dan kami akan memilih dia sebagai presiden kami," tukas Zwahreh. Iyad, seorang pemilik toko di dekat Gereja Nativity di Betlehem setuju dengan pernyataan Zwahreh.

"Chavez adalah presiden yang baik. Dia selalu mendukung rakyat Palestina," ujarnya. Warga Palestina lainnya bernama Assem juga menilai Chavez lebih baik dari pemimpin-pemimpin Arab lainnya.

"Dia lebih baik dari pemimpin-pemimpin negara Arab. Mesir dan Yordania seharusnya juga mengusir duta besar Israel. Sangan memalukan, negara-negara Arab tidak punya pemimpin seperti dia (Chavez)," tandas Assem. Pernyataan yang seharusnya menjadi tamparan keras buat Mahmud Abbas, Presiden Palestina dari faksi Fatah dan pemimpin-permimpin Arab. Dunia Arab memang sangat menyedihkan untuk Palestina.

Sementara itu walikota Bireh di Libanon, memakai nama Hugo Chavez untuk salah satu jalan di kota itu. "Cuma ini yang bisa kami lakukan untuk laki-laki pmeberani yang telah menyalakan harapan di hati kami dan telah membalas luka kami akibat kebiadaban entitas Zionis," kata Mohammed Wehbe.

Di jalan utama menuju kota Bireh sepanjang 45 kilometer yang berada di sebelah utara kota pelabuhan Tripoli, terpampang spanduk-spanduk yang bertuliskan antara lain "Bangsa ini membutuhkan pemimpin seperti Chavez", "Chavez mengusir duta besar Israel. Kapan kalian melakukannya, pemimpin-pemimpin Arab?".
Foto-foto Chavez juga ditempel di berbagai tempat di kota yang berpenduduk 17.000 jiwa itu. Seorang imam di Libanon, Bilal Rivai berkomentar tentang Chavez, "Kami tidak punya hubungan langsung dengan Chavez. Kami juga tidak beragama yang sama dengan Chavez. Kami bicara dengan bahasa yang berbeda. Tapi dia (Chavez) ikut merasakan penderitaan kami dan dia layak mendapatkan penghargaand dan penghormatan dari kami.


Saya pribadi juga menilai bahwa langkah Hugo Chavez ini adalah sebuah “langkah maju”, sebagai bagian dari tekanan politik luar negeri untuk menekan penarikan mundur agresor Israel dari Gaza. Agresi kalap Israel yang menyerang warga Gaza terutama wanita dan anak-anak ternyata memang menjadi senjata makan tuan, di balik kebisuan dunia, aksi teror ini tetap mengundang simpati dunia kepada Palestina dan berbalik menjadi black campaign bagi Israel sendiri, yang tentunya akan berdampak negatif pada hubungan dan dukungan internasional terhadap Israel selama ini.

Tapi, apakah ini semua cukup untuk membebaskan Palestina?

Seperti kita tahu, aksi barbar Israel yang didukung negara-negara Barat terutama Amerika dan Inggris sebagai sekutu utama mereka terhadap muslim Palestina bukan hanya kali ini saja terjadi, berulang kali terjadi, dan meski menuai kecaman seperti biasa, tapi tetap tak menghentikan agresi-agresi susulan yang lebih kejam dan lebih merugikan. Karena itu, kecaman, dan akrobat diplomasi seperti yang dilakukan Hugo Chavez saat ini tentu tidak dimaksudkan untuk menghentikan zionis Israel secara permanen, tetapi lebih merupakan bagian dari diplomasi lain untuk menarik simpati dan dukungan dari dunia muslim.

Setelah berhasil lolos dari upaya kudeta dukungan Amerika (April 2002), Chavez mungkin telah cukup berhasil meningkatkan perekonomian dan pemerataan di negerinya, tapi bukan itu inti persoalan yang kita bicarakan. Di balik berbagai akrobat dan konfrontasi semu antara Chavez dan Bush, Venezuela di bawah rezim sosialis Chavez tetap menjadi penopang utama supply dan distribusi migas bagi Amerika. Citgo, anak perusahaan minyak milik pemerintah Venezuela PDVSA, menguasai 14.000 stasiun pengisian bahan bakar di Amerika Serikat. Amerika mengimpor 60% kebutuhan minyaknya dari Venezuela, sekitar 2juta barel per hari. Ekspor migas Venezuela juga sangat tergantung kepada pasar Amerika, yang sampai saat ini mengambil 60% ekspor minyak Venezuela, sekitar 2 juta barel per hari.

Dalam salah satu pertemuan kabinetnya, Chavez mengungkapkan keuntungan dari hasil migas negeri itu, "Hingga sekarang kami telah mendapatkan US$4,3 miliar.” Sedangkan 75% dari produk migas Venezuela berorientasi ekspor, dengan 60% untuk men-supply kebutuhan migas Amerika Serikat.

Apa artinya semua angka-angka tadi? Tidak lain, di balik semua drama adu mulut Chavez vs Bush dan kisruh politik luar negeri yang tampak luar biasa, dua negara ini pada dasarnya menikmati hubungan ekonomi yang cukup “mesra”, dan salah satu penopang perekonomian Amerika (yang kemudian digunakan untuk mendukung teror zionis) adalah Venezuela,  sebagaimana juga keuntungan terbesar dari ekspor migas Venezuela berasal dari AS, paling tidak sampai saat ini. Saya tidak hendak mengatakan bahwa segala sesuatunya adalah konspirasi tingkat tinggi, sama sekali tidak, ini adalah seni diplomasi luar negeri yang wajar dan lumrah, setiap negara dan rezim penguasa mencoba memposisikan dan membangun citra atas dirinya di mata dunia.

Apa yang ingin saya sampaikan hanya sebuah refleksi. Kita ingat bahwa ketika Obama terpilih, dunia begitu terpukau, tidak terkecuali banyak masyarakat muslim, harapan begitu tercurah atas lahirnya “pemimpin baru dunia”, padahal semuanya hanya angan-angan kosong, terbukti dengan dukungan tanpa reserve Obama atas teror zionis Israel saat ini. Lalu sekarang, ketika seorang presiden Venezuela punya keberanian untuk mengusir Dubes Israel dari negerinya, harapan yang hampir sama seolah-olah lahir.

Tentu saja pengungkapan hal ini kepada masyarakat untuk menekan dan membongkar topeng rezim-rezim Arab yang mandul layak dilakukan, tapi pada akhirnya, kaum muslim di Palestina dan di belahan dunia lainnya termasuk kita di Indonesia, tidak bisa berharap pada rezim dan kelompok manapun di luar diri kita sendiri [3:118], karena (dengan pertolongan Alloh) hanya diri kita sendirilah yang akan benar-benar bisa membebaskan negeri-negeri muslim dari cengkraman zionis, salibis dan antek-antek mereka. Karena bagaimanapun, kaum kafir adalah wali bagi sesama mereka [5:51].

(Dengan izin Alloh) Para mujahidin, yang telah berjuang dengan harta dan jiwa mereka, jauh lebih layak diharapkan dan berhak mendapatkan dukungan daripada para thogut--apakah mereka kapitalis atau sosialis.

WaLlohu a’lam.

Baca juga:



0 komentar for this post

Posting Komentar