Menabur Jihad Menuai Teror : Apa dan Mengapa Bom Kuta, Marriot, Kuningan dan Jimbaran

By Fidei on 16.14

Filed Under: ,

" Media massa dan elektronik," kata Charles Kimball, Guru Besar Studi Islam di Universitas Wake Forest," Cenderung tertarik pada peristiwa yang paling dramatis dan sensasional."

Lain lagi dengan penulis Amerika yang kesohor, Alex Haley (1921-1992). Menurutnya," Hystory is written by the winners."

L' histoire se repete, kata orang Perancis. Sejarah berulang dalam pola yang serupa dan dalam waktu yang berbeda.

Ketiga kutipan ini, boleh dikatakan sangat tepat untuk menggambarkan hingar bingar dunia modern yang sejak beberapa tahun terakhir, dibakar oleh demam "perang global melawan terorisme."

Kata Pengantar Penulis




إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.

وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102)(.

] يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا(1)(.

] يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا(71)(.

أما بعد :

فإن أصدق الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد e، وشر الأمور محدثاتها، وكل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة، وكل ضلالة في النار.

اللهم رب جبريل وميكائيل وإسرافيل، فاطر السماوات والأرض، عالم الغيب والشهادة، أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون، اهدنا لما اختلف فيه من الحق بإذنك، إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم.



" Media massa dan elektronik," kata Charles Kimball, Guru Besar Studi Islam di Universitas Wake Forest," Cenderung tertarik pada peristiwa yang paling dramatis dan sensasional."

Lain lagi dengan penulis Amerika yang kesohor, Alex Haley (1921-1992). Menurutnya," Hystory is written by the winners."

L' histoire se repete, kata orang Perancis. Sejarah berulang dalam pola yang serupa dan dalam waktu yang berbeda.

Ketiga kutipan ini, boleh dikatakan sangat tepat untuk menggambarkan hingar bingar dunia modern yang sejak beberapa tahun terakhir, dibakar oleh demam "perang global melawan terorisme."

Bermula dari "tragedi kemanusiaan" penuh berkah (lho ?) 11 September 2001 M yang nun jauh di sana, berlanjut ke pelosok Legian, Kuta dan Jimbaran, Bali, dan akhirnya nyantol di tengah kota metropolitan, Jakarta.

Bom Bali I, Bom Marriot dan Bom Kuningan, disusul yang terakhir Bom Bali Jilid II (Kuta dan Jimbaran), bagi bangsa ini, dan juga bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara, boleh jadi lebih berkesan dari serangan WTC dan Pentagon yang merubah peta ekonomi, politik dan militer dunia tersebut. Bukan karena kerugian materi dan non-materi keempat pemboman tersebut lebih besar. Bukan karena keempat tragedi tersebut memberi justifikasi kepada badan intelijen di lingkungan POLRI maupun TNI untuk kembali memperagakan pelanggaran HAM, kebebasan dan tindakan represif kepada rakyat sendiri. Pun, bukan karena keempat kasus tersebut menewaskan beberapa warga sipil pribumi, alias bangsa Melayu.

Jadi ? Lantas ?

Itu tadi. Ketiga kutipan di atas. Perpaduan antara kepentingan politik rezim penguasa dan bisnis industri media massa-elektronik, telah menjadi bukti paling kasat mata atas terjadinya pengulangan sejarah dalam keempat kasus tersebut, dan tentu saja kasus-kasus kemanusiaan lainnya.

Seluruh media massa dan elektronik, pasca keempat kasus bom di tanah air tersebut, seia sekata ramai-ramai memberitakan ‘Kutuk dengan keras’…’basmi sampai tak berbekas’…’usut sampai tuntas’ !!! Terakhir, mari rayakan kenaikan oplah dan tiras !!! Jangan tanyakan lagi unsur obyektifitas, validitas data, both side dan kode etik jurnalistik lainnya !

Lain lagi dengan rezim penguasa. Semua jajaran dan lembaga, sibuk menonjolkan perannya. Departemen Politik dan Keamanan, Departemen Pertahanan, Departemen Kehakiman dan HAM, Departemen Dalam Negeri, Departemen Pariwisata, Badan Intelijen, POLRI dan TNI ramai-ramai mengeluarkan jurusnya demi menangguk laba dan simpati internasional.

Komentar para tokoh masyarakat, agama, pemerintahan, organisasi massa dan politik, LSM dan bahkan rakyat jelata, sudah diulas tuntas oleh media massa dan elektronik.

Langkah-langkah nyata rezim penguasa untuk membasmi apa yang dituding sebagai "jaringan terorisme global" pun telah disaksikan oleh seluruh umat manusia di jagat ini.

Namun, sebagaimana dinyatakan oleh berbagai pihak, berbagai penyelesaian kasus "terorisme" tersebut sama sekali tidak menyentuh akar permasalahan sebenarnya. Berbagai pihak yang terlibat dalam perang melawan "terorisme" tersebut, hanya sekedar memanfaatkan suasana untuk meraih kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan. Akar dan inti persoalan sendiri dilupakan dan diabaikan. Definisi terorisme yang tak jelas, pelanggaran HAM dan kebebasan dalam upaya pemberantasan "teroris" dan sejumlah kejahatan "luar biasa" lainnya dari pihak "the winners", justru dilegalkan lewat undang-undang.

Ada kisah menarik dari rangkaian pengungkapan kasus pemboman di tiga stasiun kereta api bawah tanah London, beberapa waktu lalu. Sebagaimana disebutkan oleh radio BBC, saat para pemuka agama Islam di Inggris menyatakan kepada PM Tony Blair bahwa para pelaku pemboman berada di luar Islam (kafir ?), memahami Islam secara salah dan seterusnya, justru banyak kalangan di Inggris sendiri memandang sebelah mata pernyataan para pemuka agama Islam tersebut. Menurut mereka," Ah, itu kan pandangan para tokoh tua, belum tentu mewakili pandangan kawula muda."

BBC juga melaporkan bahwa banyak kalangan di Barat berkomentar," Setiap kali Barat memerangi umat Islam, tak satupun umat Islam yang membuka Injil dan mencari tahu apa itu Nasrani. Namun setiap kali Islam memerangi Barat, bangsa Barat bergegas membuka Al-Qur'an dan mencari tahu apa sebenarnya Islam itu."

Buku yang hadir di tangan para pembaca ini, adalah sebuah pengamatan dan kajian yang mencoba ikut memberi sumbangsih "pencerahan" atas keempat tragedi bom di Indonesia tersebut, dari sudut pandang yang lain dari mainstream opini publik yang digalang oleh media massa-elektronik dan rezim penguasa "the winners".

Buku ini mencoba untuk menjawab beberapa komentar dan pertanyaan (apa, mengapa dan bagaimana) seputar "terorisme" dalam keempat kasus pemboman dalam negeri ini, disajikan dalam beberapa bagian :

Bagian Pertama. Membahas akar masalah yang diduga melatar belakangi kasus-kasus tersebut.

Bagian Kedua. Membahas tinjauan hukum Islam terhadap kasus-kasus tersebut.

Bagian Ketiga. Membahas status kelompok "pro-teroris" dan "anti-teroris" menurut tinjauan hukum Islam.

Bagian keempat. Menjawab berbagai pertanyaan yang berkaitan erat dengan motif dan hasil berbagai kasus tersebut.

Bagian Kelima. Sebuah epilog berisi berbagai himbauan dan nasehat.

Penulis bersyukur kepada Allah Ta'ala atas segala limpahan hidayah, rahmat dan 'inayah-Nya sehingga buku ini bisa hadir di hadapan para pembaca budiman. Semoga buku kehadiran ini menjadi “kado istimewa” dan tambahan bekal spiritual dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadhan 1426 H yang penuh berkah ini.

Selanjutnya, Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap pihak yang telah banyak membantu penulisan buku ini, semoga Allah Ta'ala membalas kebaikan mereka. Penulis yakin sepenuhnya bahwa tulisan ini tidak luput dari berbagai kesalahan dan kekeliruan. Koreksian, saran dan kritik yang membangun dari segenap pihak sangat penulis harapkan demi perbaikan dan kemanfaatan buku ini.

Akhir kata, Penulis berharap semoga buku ini menjadi jembatan komunikasi yang baik dan efektif, untuk membangun sikap saling memahami antara "generasi muda" dan "generasi tua", "kaum fundamentalis" dan "kaum moderat-liberal". Penulis berdoa, semoga tulisan ini hadir murni dalam rangka mencari ridha Allah Ta'ala, diterima sebagai amal shalih di sisi-Nya, bermanfaat bagi diri Penulis pribadi dan sesama umat Islam. Amien.



وصلى الله على محمد النبي الأمي، وعلى آله وصحبه وسلّم.

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين





Sulaiman Ibnu Walid Damanhuri
1 Ramadhan 1426 H


Selengkapnya, download ebook di sini.

0 komentar for this post

Posting Komentar